IKLAN TAJAAN

Memaparkan catatan dengan label Allah. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Allah. Papar semua catatan

Jun 19, 2011

Sikap terhadap nikmat ALLAH swt


Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu ? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan. (Ad Duha, 93:5-11)

Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah olehmu sekalian di waktu Allah menjadikanmu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (Al A’raf, 7:69)

Sesetengah orang, sebelum bersyukur menunggu dulu turnunya nikmat tertentu atau selesainya masalah besar. Padahal, jika mereka berfikir sejenak, mereka akan melihat bahawa setiap saat dalam kehidupan seseorang penuh dengan nikmat. Secara berkesinambungan, pada setiap saat, nikmat yang tidak terhitung jumlahnya diberikan kepada kita seperti kehidupan, kesehatan, kecerdasan, kesadaran, pancaindera, dan udara yang kita hirup. Sudah seharusnya kita bersyukur atas setiap nikmat tersebut, satu demi satu. Orang yang lalai dalam mengingat Allah dan merenungkan bukti bukti penciptaanNya tidak menyadari nilai nikmat mereka di saat mereka memilikinya. Mereka tidak bersyukur dan mereka hanya mengerti nilai nikmat nikmat itu ketika semua diambil dari mereka.

Namun orang beriman merenungkan betapa tidak berdayanya mereka dan betapa perlunya mereka kepada semua nikmat ini, sehingga mereka senantiasa bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut. Orang beriman tidak hanya bersyukur kepada Allah atas kesejahteraan, kekayaan, dan harta benda. Mereka mengetahui bahawa Allah adalah Pemilik dan Penguasa segala hal. Mereka bersyukur kepada Allah atas kesihatan, penampilan yang cantik, pengetahuan, kecerdasan mereka, atas kecintaan mereka akan iman dan kebencian mereka kepada kekafiran, atas kenyataan bahawa mereka berada di jalan yang benar, atas keterlibatan mereka bersama orang orang beriman dengan sepenuhnya, atas pengertian, pemahaman dan pandangan mereka, dan atas kekuatan fizikel dan rohani mereka. Mereka segera bersyukur kepada Allah saat mereka melihat pemandangan indah atau saat mereka mengatur pekerjaan mereka dengan baik, saat mereka menerima sesuatu yang mereka inginkan, mendengar ucapan yang baik, menyaksikan perbuatan kasih sayang dan rasa hormat, dan segala macam nikmat yang terlalu banyak untuk disebutkan. Mereka mengingat Nya sebagai Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Jika orang beriman menunjukkan dalam perbuatan baiknya bahawa nikmat yang telah dia terima tidak akan membuatnya rakus, sombong dan tinggi hati, Allah akan memberikan untuknya nikmat yang lebih banyak lagi. Firman ALLAH yang bermaksud:

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Ibrahim, 14:7)

Memahami bahawa Kehidupan Dunia Ini Adalah Sementara


Di seluruh dunia, setiap manusia tidak terkecuali, membicarakan atau memikirkan satu tema pada satu titik dalam kehidupan mereka: berumur panjang dan menghindari kematian seboleh mungkin. Hingga saat ini, para ilmuwan telah melakukan usaha usaha yang serius selama berabad abad dan telah berusaha menemukan formula formula untuk membuat manusia hidup lebih lama. Bagaimanapun, hingga saat ini, tidak ada kemajuan apa pun yang dicapai. Kerana itu firman ALLAH swt yang bermaksud:

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jika kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cubaan (yang sebenar benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan,” (al-Anbiyaa` 34-35)

Allah mengatakan kepada kita bahawa setiap manusia diciptakan tidak abadi (akan mati). Sebuah kenyataan yang setiap kita pasti akan hadapi pada waktu yang telah ditentukan. Tanpa mengabaikan kenyataan bahawa manusia enggan memikirkan atau menerima kenyataan kematian, kenyataan bahawa manusia akan mati adalah sebuah kebenaran mutlak. Dalam hal apa pun, kehidupan dunia ini sangatlah singkat dan sementara sifatnya. Setiap orang diturunkan ke dunia ini untuk diuji dalam waktu berkisar antara tujuh belas sampai tujuh puluh tahun. Kerana itulah, akan menjadi sebuah kesalahan yang besar bagi seseorang untuk mendasarkan rancangan hidupnya hanya untuk dunia, untuk menerima persinggahan yang sebentar ini sebagai kehidupan sejatinya, dan untuk melupakan akhirat di mana ia akan hidup selamanya. Kenyataan ini terlihat begitu jelas dan mudah hingga semua kita boleh memahaminya dengan cepat. Akan tetapi, sebagaimana ditunjukkan dalam firman ALLAH swt yang bermaksud:

“Dialah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun,” (al-Mulk 2)

Allah memperindah dunia ini untuk menciptakan di mana dalamnya manusia akan diuji. Manusia seharusnya tidak tertipu oleh kenyataan bahawa sebagian orang berlumba lumba satu sama lain untuk meningkatkan kesenangan hidup di dunia ini. Hal ini kerana, seperti yang ditunjukkan oleh Al Qur`an mereka yang hidup dalam kelalaian, tidak dapat menganggap sebuah kelompok kecuali bila mereka memiliki sifat sifat yang dikehendakinya. Mereka yang berusaha untuk mengumpulkan dan menimbun harta kekayaan, mengorbankan kepercayaan mereka untuk mendapatkan kekuasaan. Mereka yang memainkan peranan sebagai orang yang ingin mendapatkan penghargaan atau penerimaan dari orang lain, sebenarnya mencari cita cita yang khayalan. Menganggap bahawa kehidupan dunia ini adalah nyata dan mengejar keuntungan serta balasan duniawi tanpa harapan, adalah ketidaklogikan, kelucuan, dan kehinaan, seperti menyalahkan adegan dari sebuah sandiwara nyata.

Bagaimanapun, haruslah diingat bahawa yang tertipu itu bukan hanya mereka yang mengabdikan dirinya pada kehidupan dunia ini, melainkan juga mereka yang berusaha mendapatkan dunia dan akhirat. Kehidupan dunia ini diciptakan sebagai bekalan bagi manusia. manusia harus memakainya sebaik mungkin atas segala pesonanya dan menikmati anugerahnya yang berlimpah. Akan tetapi, kita tidak boleh mengidealkan dan tidak juga mengejar anugerah ini dengan keinginan yang berlebihan. Ia harus menjadikannya alat untuk hidup sesuai dengan agama dalam sikap sebaik mungkin, untuk menghargai Allah, dan bersyukur setelah menyadari bahawa semua itu dilimpahkan Allah kepadanya. Di dalam ayat berikut, Allah mengingatkan umat manusia bahawa tingkah laku mereka yang hanya mengingat hari akhir saja adalah yang terbaik dalam kebaikan bersama Allah.

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya, Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlaq yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (Shaad 45-47)

Meskipun demikian, Allah melimpahkan anugerah duniawi yang luar biasa atas mereka yang dengan ikhlas berpaling kepada-Nya dan menginginkan hari akhirat. Jadi, seseorang yang mengambil jarak dengan keikhlasan dengan mengatakan, “Biarkan aku memiliki dunia ini dan akhirat, pada akhirnya akan kehilangan kedua-duanya. Orang yang selalu hanya mencari akhirat akan mendapatkan keberkahan dunia dan akhirat.

Kematian


Sesungguhnya kehidupan yang abadi, Setiap manusia akan dihidupkan kembali setelah mati dan menghitung amalnya di hadapan Allah. Siapa saja yang beriman pada-Nya dengan sepenuh hati selama hidupnya di dunia, yang mengabdi pada-Nya dan bertaubat atas dosanya akan mendapat balasan berupa kehidupan abadi di syurga. Tapi mereka yang mengharapkan kehidupan dunia dibandingakan redha Allah dan hari akhir maka akan mendapat balasan berupa siksaan yang tak pernah terbayang sebelumnya.

Maka dari itu, manusia harus berusaha agar terhindar dari tipu daya kehidupan duniawi yang bersifat sementara. Tidak ada satupun keindahan di dunia kecuali semua akan berakhir. Tinggallah sebuah makna. Jantung Anda, yang telah berdenyut bertahun-tahun, berhenti berdenyut. Dan Anda akan menghirup nafas terakhir. Dan kematian membawa Anda pergi, tubuh Anda mulai terasa dingin. Suhu tubuh turun, dan kematian mengiringinya.

Tujuan hidup manusia sesungguhnya adalah menghamba pada Allah, yang telah menciptakan dan memberikan berkah, dan mencari redhaNya. Manusia harus tahu bahawa segala yang ada di dunia bersifat sementara. Hanya Allah lah yang kekal. Dalam sebuah ayat, Allah menjelaskan tentang kehidupan dunia sebagai berikut:

Semua yang ada di bumi itu akan binasa; tapi Dzat Tuhanmu akan tetap kekal, yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan. (Ar Rahmaan 55: 26-27)

Setiap manusia haruslah mengabdikan diri pada Allah, iman padaNya dan hidup dengan aturanNya. Dia harus toleransi dan rendah hati, pemaaf, serta suka menolong orang lain. Dia harus berlaku jujur, bekerja dengan keras dan cerdas, serta mahu berkorban . Manusia yang menunjukkan kebaikan seperti ini akan terhindar dari hawa nafsu pribadinya. Hanya dengan cara itu dia boleh tertolong. Seperti firman Allah dalam Al-Quran:

… dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al Hasyr 59 : 9)

Jun 03, 2011

LAH NI SEMUA NAK TUNJUK2....KERETA MAHAL LAGI CANGGIH....RUMAH JUTAWAAN RINGGIT....PERABUT2 MAHAL2 DLL..USTAZ2 ADA YG SAMA....NI SEMUA BAWA MATI KE...





Ya Allah, Dengarlah Ringtone Handphone Terbaru Ku



Assalamualaikum wbt

Posted Image
Pernah tak anda mengalami (samada yang menjadi penonton mahupun pelaku) situasi didalam masjid/surau dimana tengah enak-enak merasai ketenangan dalam masjid (samada sedang bersembahyang, berehat sebentar, menunggu kawan habis solat, membaca alQ dll aktiviti ketika berada dalam masjid/surau tersebut) tiba-tiba ada telefon bimbit seorang jemaah berbunyi hinggakan bunyi telefon tersebut memenuhi dan mendominasi ruang solat?


Aku pernah. Aku faham, mungkin kerana terlupa, maka terdapat segelintir pemilik telefon bimbit yang terlupa menutup atau menset ia dalam mod silent. Mungkin juga sebab henpon tersebut baru dibeli, jadi tak tahu nak setting macam mana. Mungkin juga mengalami penyakit reseptor/deria sentuhan yang tak berfungsi jadi tak boleh rasa getaran henponkalau set dalam silent. Mungkin juga sebab terlupa terbawa henpon sekali dalam masjid, ingatkan dah tinggal dalam kereta tadi.


Yang aku tak faham ialah, (ketika dalam sembahyang) kenapa bila henpon tersebut berbunyi, tak ada usaha untuk mematikannya? Sedangkan kalau gatal yang mengganggu diri dari khusyu' boleh digaru, kenapa kalau henpon berbunyi yang mengganggu diri DAN orang lain dari khusyu' tak boleh dimatikan bunyi tersebut (tekan kekunci untuk jawab panggilan)?


Adakah sebab nada dering itu terlalu rare hinggakan dengan Allah pun nak menunjuk?


p/s:

  • Setlah telefon bimbit itu agar boleh menjawab dengan menekan mana-mana kekunci.
  • Biasakan diri bila nak masuk masjid/surau agar set silent/tutup telefon. Kalau dalam mesyuarat dengan manusia boleh buat, dalam masjid bertemu Allah misty lagi boleh.
  • Janganlah setting sampai level maksimum bunyi nada dering tu. Bukannya bekerja di kawasan construction site pun.
  • Kalau nada dering mesej tu pula biarlah yang pendek-pendek. Panjang-panjang pun takkan ubah isi SMS. Tak ada kaitan pun antara panjang nada dering dengan panjang SMS.
  • Sedarlah bahawa orang lain pun ada henset. Orang lain punya henset pun canggih-canggih. Tak payah nak iklankan henset kita paling up-to-date.

KOMEN

SURUH ORANG IKUT SUNAH...JAUHI RIBA...JANGAN MEMBAZIR...JANGAN RIAK...DAN SEGALA MAK NENEKLAH YANG CAKAP DAN DISYARAHKAN...TAPI CAKAP TAK SERUPA BIKIN...DUIT MASUK...JANGAN JUAL AGAMA DENGAN DUNIA DAH...FAHAM2..FIKIRLAH2...JANGAN PULAK SOK KOMPLEN TAK DE ORANG BERITAHU...

NANTI ADA YANG BERI PELBAGAI ALASAN UNTUK MENGHARUSKAN PERBUATANNYA...SEDANGKAN IA TAK DAPAT MENGELUARKAN NAS QURAN DAN HADIS UNTUK MENGHARUS BERMEWAH2@MENUNJUK2 KEKAYAAN...SOK JAWABLAH JER LAH..

ADA SATU KES...MUNGKIN BANYAK...KERETA MEWAHNYA LEBIH DARI DUA...MINTAK DERMA ORANG ANAK YATIM DAN SEKOLAH AGAMA RAKYAT...BAGI YANG BERAKAL...SENANG FIKIR...PATUT JUAL KERETA MEWAH TU...DERMALAH....PAKAI JER WIRA JE DAN GEN 2 DAHLAH.....NANTI TAK STANDARD DAN MALULAH...PATUT MALULAH DENGAN ORANG....LAH NI..ORANG DAH RAMAI BIJAK2...DAH PANDAI MENILAI....MANA YANG MUJAHADAH....DAN MANA PULAK YG CAKAP TAK SERUPA BIKIN....


DIMANAKAH PUNCA KEBINASAAN SESEORANG??


H.R. BAIHAQI


Daripada Abu Hurairah ra berkata : Rasulullah SAW bersabda: "Selagi akan datang suatu masa di mana orang yang beriman tidak akan dapat menyelamatkan imannya, kecuali bila ia lari membawanya dari suatu puncak bukit ke puncak bukit yang lain dan dari suatu lubang kepada lubang yang lain. Maka apabila zaman itu telah terjadi, segala pencarian (pendapatan kehidupan) tidak di capai kecuali dengan perkara yang membabitkan kemurkaan Allah SWT. Maka apabila ini telah terjadi, kebinasaan seseorang adalah berpunca dari menepati kehendak isterinya dan anak-anaknya. Kalau ia tidak mempunyai isteri dan anak, maka kebinasaannya adalah berpunca dari menepati kehendak kedua orang tuanya. Dan jikalau orang tuanya sudah tiada lagi, maka kebinasaannya adalah berpunca dari menepati kehendak kaum kerabatnya (adik-beradiknya sendiri) atau dari menepati kehendak jirannya:". Sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah SAW, apakah maksud perkataan engkau itu?" (Kebinasaan seseorang dari kerana isterinya, atau anaknya, atau orang tuanya, atau keluarganya, atau jirannya). Nabi Muhammad SAW menjawab, "Mereka akan mencelanya dan mengaibkannya dengan kesempitan kehidupannya. Maka dari kerana itu ia terpaksa melayan kehendak mereka dengan menceburkan dirinya di jurang-jurang kebinasaan yang akan menghancurkan dirinya".



Benar sekali sabdaan Rasulullah SAW ini. Ramai orang yang mengetahui perkara-perkara yng diharamkan dalam agama tetapi terpaksa juga mereka menceburkan diri ke dalam lumpur kemaksiatan untuk melayan kehendak isteri, anak, orang tua, keluarga ataupun jiran mereka.




ZAMAN DI MANA ORANG TIDAK PEDULIKAN
DARI MANA MENDAPATKAN HARTA



H.R. NASAK (nun..sim..alif.hamzah)



Daripada Abu Hurairah ra berkata : Bersabda Rasulullah SAW : "Akan datang suatu zaman seseorang tidak memperdulikan dari mana ia mendapatkan harta, apakah dari sumber yang halal atau pun haram."




Di zaman sekarang ini merupakan zaman ketandusan rohani dan zaman materialisme, segala sesuatu adalah bernilai dengan nilai harta. Manusia cakar mencakar untuk memperolehi sebanyak mungkin kekayaan. mereka tidak memperdulikan dari mana datangnya harta yang diperolehi, apakah dari sumber yang halal atau dari sumber yang haram. Yang penting, harta dapat dikumpulkan sebanyak-banyaknya untuk memenuhi kehendak nafsu atau pun untuk melayan kehendak isteri atau anak-anak mereka.


HARTA RIBA WUJUD DI MERATA TEMPAT



H.R. IBNU MAJAH



Daripada Abu Hurairah ra berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Akan tiba suatu zaman, tidak ada seorang juga pun kecuali ia terlibat dalam memakan harta riba. Kalau ia tidak memakan secara langsung, ia akan terkena juga debu-debunya."




Hadis sabdaan Rasulullah SAW ini sangat jelas di hadapan mata kita pada hari ini.



AHLI IBADAT YANG JAHIL DAN ULAMA YANG FASIQ


H.R. IBNU ADY


Daripada Anas ra berkata : Bersabda Rasulullah SAW, "Selagi akan ada di akhir zaman ahli ibadat yang jahil dan ulama yang fasiq".



Nabi SAW menerangkan di akhir zaman nanti akan ada dua golongan ini. Ada golongan jahil yang rajin beribadat dan ada pula orang alim yang fasiq. Sebenarnya syaitan telah berusaha sedapat mungkin untuk menyesatkan manusia. Oleh kerana itu ia menggunakan beberapa cara yang berlainan kepada orang-orang yang berlainan pula. Bagi si jahil, syaitan selalu menyuruhnya rajin berbuat ibadat, kerana ibadat orang yang jahil itu tidak sah dan tidak diterima di sisi Allah SWT. Syaitan tidak mahu orang jahil itu rajin mengaji kerana bila ia mengaji ia akan memperbaiki ibadatnya, maka ibadat tersebut akan diterima oleh Allah SWT yang bererti kekalahan di pihak syaitan.


Begitu pula halnya dengan si Alim yang banyak ilmunya. Syaitan akan menyuruhnya malas beribadat dengan mengemukakan bermacam-macam alasan, sehingga si Alim itu meninggalkan kefardhuannya. Maka dengan itu ilmu yang ada di dalam dadanya tidak berfaedah, bahkan akan menjadi musuh kepadanya pada hari kiamat nanti. Maka itulah kejayaan syaitan dalam usahanya.


Gejala sebegini rupa dapat di lihat di dalam masyarakat kita, di mana yang rajin beribadat itu adalah orang yang jahil dan yang mengabaikan hal-hal ibadat itu pula adalah terdiri daripada orang yang mempunyai ilmu pengetahuan.



ORANG YANG BERPEGANG DENGAN AGAMANYA
SEPERTI MEMEGANG BARA API


H.R. TIRMIZI


Daripada Anas ra berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Akan datang kepada umat ku suatu zaman di mana orang yang berpegang kepada agamanya laksana menggenggam bara api".




Yang dimaksudkan di sini ialah zaman yang sangat mencabar sehingga sesiapa yang hendak mengamalkan ajaran agamanya ia terpaksa menghadapi kesusahan dan tentangan yang sangat hebat. Kalau ia tidak bersungguh-sungguh, nescaya agamanya terlepas dari genggamannya.


Ini adalah disebabkan suasana di sekelilingnya tidak membantu untuk ia menunaikan kewajiban agamanya. Bahkan apa yang ada di sekelilingnya mendorong untuk membuat kemaksiatan dan perkara-perkara yang dapat meruntuhkan akidah dan keimanan atau paling kurang menyebabkan kefasiqan. Ini juga bermaksud, orang Islam tersepit dalam melaksanakan tuntutan agamanya di samping tidak mendapat kemudahan.



UJIAN DASHYAT TERHADAP IMAN


H.R. MUSLIM


Daripada Abu Hurairah ra bahawasanya Rasulullah SAW bersabda :"Bersegeralah kamu beramal sebelum menemui fitnah (ujian berat terhadap iman) seumpama malam yang sangat gelap. Seseorang yang masih beriman di waktu pagi, kemudian di waktu petang dia sudah menjadi kafir, atau (Syak Perawi Hadis) seseorang yang masih beriman di watu petang, kemudian pada esok harinya ia sudah menjadi kafir. Ia telah menjual agamanya dengan sedikit dari mata benda dunia".





Hadis ini menerangkan kepada kita betapa dashyatnya dan hebatnya ujian terhadap iman seseorang di akhir zaman. Seseorang yang beriman di waktu pagi, tiba-tiba dia menjadi kafir di waktu petang. Begitu pula dengan seseorang yang masih beriman di waktu petang, tiba-tiba pada esok harinya telah menjadi kafir. Begitu pantas dan cepat perubahan yang berlaku.

Iman yang begitu mahal boleh gugur di dalam godaan satu malam atau satu hari sahaja, sehingga ramai orang yang menggadaikan imannya kerana hanya hendak mendapatkan sedikit dari harta benda dunia. Dunia lebih dicintai di sisi mereka daripada iman. Dan menurut Ibnu Majah, beliau menambahkan, "kecuali orang yang hatinya dihidupkan Allah SWT dengan ilmu".

Mudah-mudahan Allah SWT menjadikan kita di antara orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya, sehingga dengan itu Allah SWT akan menyelamatkan iman kita dari ujian yang dashyat ini.

BAHAYA KEMEWAHAN


H.R. TIRMIZI



Daripada Ali Bin Abi Thalib ra ;"Bahawasanya kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW di dalam masjid. Tiba-tiba datang Mus'ab Bin Umair ra dan tiada di atas badannya kecuali hanya selendang yang bertampung dengan kulit. Rasulullah SAW melihat kepadanya. Baginda menangis dan menitiskan air mata kerana mengenangkan kemewahan Mus'ab ketika berada di Mekah dahulu (kerana sangat dimanjakan oleh ibunya) dan kerana memandang nasib Mus'ab sekarang (ketika berada di Madinah sebagai seorang Muhajirin yang terpaksa meninggalkan segala harta benda dan kekayaan di Mekah). Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda, "Bagaimanakah keadaan kamu pada suatu saat nanti, pergi di waktu pagi dengan satu pakaian, dan pergi di waktu petang dengan pakaian yang lain pula. Dan bila diangkatkan satu hidangan diletakkan pula satu hidangan yang lain. Dan kamu menutupi (menghias) rumah kamu seperti mana kamu memasang kelambu Kaabah?". Maka jawab sahabat, "Wahai Rasulullah, tentunya di waktu itu kami lebih baik daripada di hari ini. Kami akan memberikan penumpuan kepada masalah ibadat sahaja dan tidak usah mencari rezeki". Lalu Nabi SAW bersabda, "Tidak! Keadaan kamu di hari ini adalah lebih baik daripada keadaan kamu di hari itu".


Dalam hadis ini Nabi Muhammad SAW menerangkan bahawa umatnya pada suatu masa kelak akan mendapat kekayaan dan kelapangan dalam kehidupan. Pagi-petang pakaian bersilih ganti. Hidangan makanan tidak putus-putus. Rumah-rumah mereka tersergam indah dan dihias dengan bermacam-macam perhiasan. Dalam keadaan demikian kita juga mungkin akan berkata seperti perkataan sahabat. Dimana, kalau semuanya sudah ada, maka senanglah hendak membuat ibadat. Tetapi Nabi kita Muhammad SAW mengatakan, "Keadaan serba kekurangan itu adalah lebih baik untuk kita", ertinya lebih memungkinkan kita untuk beribadat.

Kemewahan hidup banyak menghalang seseorang itu dari berbuat ibadat kepada Allah SWT, sepertimana yang berlaku di hari ini. Segala yang kita miliki kalaupun tidak melebihi keperluan, namun ianya sudah mencukupi. Tetapi, bila dibanding dengan kehidupan para sahabat, kita jauh lebih mewah daripada mereka, sedangkan ibadat kita sangat jauh ketinggalan. Kekayaan dan kemewahan yang ada, selalu menyibukkan kita dan menghalang dari membuat ibadat. Kita sibuk menghimpun harta dan juga sibuk menjaganya serta sibuk untuk menambah lebih banyak harta lagi. Tidak ubah seperti apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW, "Seandainya seorang anak Adam itu telah mempunyai satu jurang emas, dia berhasrat untuk mencari jurang yang kedua, sehinggalah ia dimasukkan ke dalam tanah (menemui kematian)".

Begitulah gambaran yang sebenar terhadap kehalobaan manusia dalam menghimpun harta kekayaan. Ia sentiasa mencari dan menambah, sehinggalah ia menemui kematian. Maka ketika itu, barulah ia sedarkan dirinya dengan seribu satu penyesalan. Oleh itu, janganlah kita lupa daratan dalam mencari harta kekayaan. Tidak kira halal atau haram, yang penting dapat harta. Tidak kira waktu sembahyang, bahkan semua waktu digunakan untuk menimbun kekayaan.

Biarlah kita mencari mata benda dunia pada batas-batas keperluan. kalau berlebihan bolehlah digunakan untuk menolong orang lain yang kurang bernasib baik, suka menderma dan suka bersedekah, sebagai simpanan untuk hari akhirat kelak.

Orang yang bijak adalah orang yang mempunyai perhitungan untuk masa akhiratnya dan ia menjadikan dunia ini tempat bertanam dan akhirat tempat memetik buahnya.


PENYAKIT UMAT-UMAT DAHULU


H.R.HAKIM



Daripada Abu Hurairah ra katanya : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda :"Umat ku akan ditimpa penyakit-penyakit yang pernah menimpa umat-umat dahulu". Sahabat bertanya, "Apakah penyakit-penyakit umat-umat terdahulu itu?" Nabi SAW menjawab, " Penyakit-penyakit itu ialah (1) terlalu banyak seronok (2) terlalu mewah (3) menghimpun harta sebanyak mungkin (4) tipu menipu dalam merebut harta benda dunia (5) saling memarahi (6) hasud menghasud sehingga zalim menzalim".


Penyakit-penyakit yang disebutkan oleh Rasulullah SAW tadi telah banyak kita lihat di kalangan kaum Muslimin di hari ini.

Disana sini kita melihat penyakit ini merebak dan menjalar dalam masyarakat dengan ganasnya. Dunia Islam di landa krisis rohani yang sangat tajam dan meruncing. Dengan kekosongan rohani itulah mereka terpaksa mencari dan menimbun harta benda sebanyak-banyak nya untuk memuaskan hawa nafsu. Maka apabila hawa nafsu diperturutkan tentunya mereka terpaksa menggunakan segala macam cara dan tipu helah. Di saat itu, hilanglah nilai-nilai akhlak dan yang wujud hanyalah kecurangan, khianat, hasud-menghasud dan sebagainya.

Marilah kita merenung maksud hadis ini, dan marilah kita bermuhasabah!!!!!

UMAT ISLAM MENGIKUTI
LANGKAH-LANGKAH YAHUDI DAN NASRANI




H.R. MUSLIM



Daripada Abu Said Al-Kudri ra berkata : Bahawasanya Rasulullah SAW bersabda :" Kamu akan mengikuti jejak langkah umat-umat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga jikalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu akan mengikuti mereka". Sahabat bertanya, " "Ya Rasulullah! Apakah Yahudi dan Nasrani yang kau maksudkan?" Nabi SAW menjawab, " Siapa lagi kalau bukan mereka".

Umat Islam yang mengikut jejak langkah apapun "cara hidup" orang-orang Yahudi dan Nasrani, hinggalah dalam urusan orang kecil dan perkara-perkara yang tidak munasabah. Contohnya, jikalau orang Yahudi dan Nasrani masuk ke lubang biawak yang kotor dan sempit sekalipun, orang Islam akan terus mengikut mereka.

Zaman sekarang ini kita dapat melihat kenyataan sabdaan Rasulullah SAW ini. Ramai orang Islam yang kehilangan pegangan di dalam kehidupan. Mere hanya meniru "cara hidup" Yahudi dan Nasrani samada mereka sedar atau tidak. Ramai orang Islam yang telah terperangkap dengan tipu helah Yahudi dan Nasrani dan ramai pula orang yang menjadi alat dan tali barut mereka.

Ya Allah ! Selamatkan lah kami daripada mereka.